Merah Putih today – Isu dugaan kebocoran data pribadi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia kembali menghebohkan publik. Isu ini mencuat setelah seorang pengguna Facebook bernama Matt Murdrock mengunggah temuan yang diklaim sebagai bukti kebocoran basis data sensitif milik mahasiswa dari belasan universitas.
Dalam unggahannya, Matt memperlihatkan tangkapan layar yang diduga berisi data pribadi mahasiswa, mulai dari nama lengkap, nomor induk mahasiswa (NIM), alamat email, hingga kata sandi. Data tersebut diklaim diperjualbelikan secara bebas di forum gelap atau dark web.
Temuan ini memicu kekhawatiran serius terkait lemahnya sistem keamanan siber di lingkungan perguruan tinggi. Praktisi keamanan menilai kebocoran semacam ini sangat berbahaya karena berpotensi disalahgunakan untuk berbagai tindak kejahatan, seperti penipuan berbasis phishing, pengambilalihan akun digital, hingga pendaftaran pinjaman online ilegal.
Dampak dugaan kebocoran data itu pun mulai dirasakan langsung oleh sejumlah pihak. Salah satu alumni Universitas Islam Lamongan (Unisla), Hakim, mengaku mengalami gangguan berupa teror telepon dari nomor tak dikenal. “Makanya saya sering dapat telepon nomor baru, yang enggak jelas,” ungkap Hakim.
Sementara itu, pihak internal kampus Unisla disebut telah mengetahui adanya isu tersebut. Seorang dosen Unisla yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa informasi terkait dugaan kebocoran data akan segera diteruskan ke pimpinan kampus. “Iya mas, nanti akan diinformasikan ke pimpinan,” ujarnya singkat.
Belasan kampus Negeri dan swasta dalam unggahan Matt seperti : Universitas Brawijaya, Universitas Padjajaran, Universitas Tanjungpura, Universitas Terbuka, Universitas Atma Jaya, Universitas Muhammadiyah, Universitas Siliwangi, Universitas Mulia, Universitas Perjuangan, Unisma, Universitas Pamulang, Universitas Cokroaminoto, Universitas Pancasakti, Universitas Udayana.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kampus maupun pemerintah terkait langkah konkret penanganan dugaan kebocoran data tersebut. Masyarakat, khususnya mahasiswa dan alumni, diimbau untuk lebih waspada serta segera mengamankan akun digital masing-masing guna menghindari penyalahgunaan data.
Diketahui, ” Dark web adalah bagian tersembunyi dari internet yang tidak terindeks oleh mesin pencari biasa. Akses ke dark web membutuhkan software khusus dan konfigurasi tertentu. Mirip dengan “dunia bawah tanah” di kehidupan nyata, dark web kerap dikaitkan dengan aktivitas ilegal seperti jual beli barang terlarang, data curian, dan lain sebagainya.






